Selasa, 24 April 2012

dari 7 peringatan


                                           "apa yang kita dapat rasakan
 Kalau seseorang yang kita kasihi meninggal, maka kita mencoba mengingat pengalaman-pengalaman bersama dengan orang tersebut, baik pengalaman suka maupun duka. Namun, terutama kita mencoba mengingat apa yang diucapkan pada saat-saat menjelang ajalnya, karena pesan pada saat-saat terakhir adalah penting dan penuh makna.
Dalam tulisan ini, maka kita akan melihat tujuh pesan Yesus yang diucapkan-Nya pada saat Dia tergantung di kayu salib, saat-saat akhir hidup-Nya. Dari pesan terakhir ini, kita akan dapat menangkap hal-hal yang terpenting yang ingin disampaikan-Nya kepada kita. Tujuh pesan Yesus terdiri dari: (a) Luk 23:34 “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.“; (b) Luk 23:43 “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (c) Yoh 19:26-27 “Ibu, inilah, anakmu!” dan “Inilah ibumu!“; (d) Mar 15:34 “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?“; (e) Yoh 19:28 “Aku haus!“; (f) Yoh 19:30 “Sudah selesai“; (g) Luk 23:46 “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.“
Dari pesan ini, kita melihat bagaimana Yesus ingin membawa keselamatan bagi semua orang dengan memberikan pengampunan kepada umat manusia, sehingga manusia dapat bersatu dengan Allah di dalam Kerajaan Sorga, sama seperti Yesus membawa pencuri di sebelah kanan-Nya ke Firdaus. Bagaimana cara untuk mencapai Kerajaan Sorga? Yesus menunjukkan agar kita dapat menerima Maria sebagai bunda kita, senantiasa berharap pada Allah dalam kesulitan, haus akan jiwa-jiwa untuk diselamatkan, serta terus setia terhadap panggilan kita sampai akhir hayat kita, sampai tiba saatnya kita menyerahkan nyawa kita kepada Bapa dan kemudian memulai kehidupan baru di dalam Kerajaan Sorga.
1. Luk 23:34 “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”
Pada saat Yesus tergantung di kayu salib, di tahta-Nya yang dipandang hina oleh banyak orang, Dia melihat dengan jelas drama kehidupan kehidupan manusia, mulai dari serdadu yang kejam, murid-muridnya yang pengecut, kaum Farisi yang iri hati, orang-orang yang tidak melakukan apapun ketika mereka melihat ketidakadilan. Di kayu salib dan juga dalam permenungan-Nya di taman Getsemani, Kristus juga melihat dosa-dosa seluruh umat manusia, mulai dari Adam dan Hawa sampai manusia terakhir. Ini berarti Dia juga melihat semua dosa kita. Inilah yang menyebabkan Yesus meneteskan keringat darah.
Santo Tomas Aquinas menyatakan bahwa ada tiga pengetahuan di dalam Kristus dalam kodrat-Nya sebagai manusia, yaitu: 1) pengetahuan yang diperolehnya dari pengalaman/ pembelajaran (acquired knowledge), 2) pengetahuan yang ditanamkan dari Allah (infused knowledge); dan 3) pandangan kesempurnaan surgawi (beatific vision). Acquired knowledge ini adalah sama seperti pengetahuan yang kita dapatkan dari kita belajar kehidupan sehari-hari maupun mendapatkan pengetahuan tentang pengetahuan-pengetahuan yang lain. Hal ini dinyatakan di dalam Alkitab ketika dituliskan “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.“(Luk 2:52). Infused knowledge adalah pengetahuan seperti yang diperoleh oleh nabi-nabi maupun para malaikat. Allah sendiri memberikan inspirasi dan dengan akal budi mereka, para nabi mengekspresikannya dengan ungkapan dan kata-kata mereka sendiri. Bagaimana dengan beatific vision? Pengetahuan inilah yang dipunyai oleh Kristus sejak Dia dikandung dan sampai selama-lamanya. Pengetahuan ini memungkinkan Kristus senantisa berada dalam persatuan dengan Allah Bapa walaupun Dia mengambil kodrat manusia. Pada saat yang bersamaan, pengetahuan ini memungkinkan Kristus dapat memilih untuk membawa seluruh umat manusia dalam doaNya di taman Getsemani.
Bayangkan ketika orang tua merenungkan dosa-dosa yang diperbuat oleh anaknya. Dalam keterbatasan melihat dosa-dosa anaknya, hati mereka dapat menjerit dan merasakan kepedihan yang mendalam. Inilah yang dialami oleh Musa, ketika dia mengetahui bahwa bangsa Israel akan mengalami kehancuran karena telah menyembah berhala. Dia berkata “31 …”Ah, bangsa ini telah berbuat dosa besar, sebab mereka telah membuat allah emas bagi mereka. 32 Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu–dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis.” (Kel 32:32)
Sekarang coba bayangkan, apa yang dialami oleh Yesus, ketika Dia melihat secara jelas seluruh dosa-dosa manusia, dari manusia pertama sampai manusia yang terakhir. Dan gambaran seluruh dosa-dosa manusia lebih jelas dibandingkan dengan kejelasan Musa melihat dosa-dosa umat Israel. Dengan beatific vision-Nya, Kristus melihat kesombongan manusia, orang-orang yang meninggalkan Gereja-Nya, orang-orang yang memecahkan diri dari Tubuh Mistik Kristus, orang-orang yang sibuk dengan pekerjaan mereka dan lupa akan Tuhan yang telah memberikan rejeki kepada mereka. Dia juga melihat dosa-dosa yang kita lakukan, yaitu saat kita lebih memilih kesenangan kita dibandingkan dengan mengikuti perintah Allah, atau saat kita egois, atau saat kita marah dan mengeluh ketika ada percobaan datang. Namun, pada saat yang bersamaan, selain dosa-dosa kita, Kristus juga melihat perbuatan kasih yang kita lakukan. Ini berarti pada saat kita melakukan perbuatan kasih, maka kita juga menghibur Kristus pada saat Dia berdoa di taman Getsemani. Pada waktu Kristus berdoa inilah, segala yang terjadi di masa lalu maupun masa depan, dihadirkan oleh Kristus. Dengan demikian, jika kita berdoa dan melakukan perbuatan kasih di masa kini, kita menemani dan menghibur Kristus pada saat Dia mengalami penderitaan di Taman Getsemani. Kita mengikuti apa yang diperintahkan oleh Kristus sendiri, ketika Dia mengatakan “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.” (Mat 26:38). Jangan biarkan kita lengah sehingga Kristus menegur kita dengan mengatakan “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?” (Mat 26:40).
Bagaimana dengan pengetahuan manusia seperti kita? Kita dapat mempunyai pengetahuan eksperimental atau kalau Tuhan menghendaki, seseorang juga dapat mempunyai infused knowledge. Bahkan dengan seijin Tuhan, Rasul Paulus mungkin mengalami beatific vision ketika dia mengatakan bahwa dia mengenal seseorang yang diangkat ke tingkat ketiga dari Sorga (lih. 2Kor 12:2-4). Namun, menjadi kodrat dari manusia untuk belajar secara bertahap. Pengetahuan manusia akan Tuhan didapatkan secara bertahap. Hal ini berbeda dengan para malaikat yang mendapatkan pengetahuan secara lengkap secara langsung. Inilah sebabnya Tuhan dapat mengampuni dosa manusia dan memberikan kesempatan kepada manusia berulang-ulang untuk memperbaiki dosanya, namun kepada malaikat yang berdosa, Tuhan tidak dapat memberikan kesempatan kedua, mengingat kesempurnaan pengetahuan yang telah diberikan kepada mereka. Kita ketahui bahwa sebagian dari para malaikat memilih untuk menolak dan melawan Tuhan.
Dengan melihat kodrat manusia ini, Kristus berdoa “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (lih. Luk 23:34). Kristus tahu bahwa manusia memang berdosa karena dipengaruhi oleh kelemahan-kelemahannya akibat dosa asal. Dengan demikian, apa yang diperbuat oleh manusia bisa saja terjadi karena ketidaktahuannya. Namun tidak semua ketidaktahuan mengakibatkan orang terbebas dari dosa. Ketidakketidaktahuan yang tak terhindari (invincible ignorance) membuat orang tidak berdosa, namun ketidaktahuan yang disebabkan oleh ketidakpedulian orang itu sendiri (culpable ignorance) menyebabkan seseorang tetap bersalah. Rasul Petrus mengerti bahwa orang-orang yang menyalibkan Yesus bertindak karena ketidaktahuan mereka, sehingga dia mengatakan “Hai saudara-saudara, aku tahu bahwa kamu telah berbuat demikian karena ketidaktahuan, sama seperti semua pemimpin kamu.” (Kis 3:17)
Bagaimana dengan kita yang telah menerima Kristus? Kita tidak mempunyai alasan lagi bahwa kita tidak tahu. Oleh karena itu, tanggung jawab kita lebih berat, karena barang siapa diberi banyak akan dituntut lebih banyak (lih. Luk 12:48). Menyadari bahwa manusia dengan kekuatannya sendiri tidak dapat menjalankan semua perintah Allah, Kristus menyediakan Diri-Nya sendiri untuk disalibkan, sehingga rahmat yang berlimpah dapat mengalir kepada kita umat Allah. Bahkan kesalahan-kesalahan yang dibuat umat Allah dapat dihapuskan dengan melakukan pengakuan dosa. Dan kalau seseorang tidak mensyukuri dan menggunakan semua kemudahan untuk mendapatkan pengampunan dosa, maka orang tersebut tidak lagi mempunyai alasan apapun kalau sampai dia kehilangan keselamatan kekal.
2. Luk 23:43 “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”
Keselamatan kekal bagi manusia adalah yang menjadi alasan bagi Kristus untuk turun ke dunia, rela menanggung sengsara, menerima semua kesengsaraan dan penderitaan, serta taat kepada Bapa untuk mati di kayu salib. Seluruh kehidupan-Nya ditujukan untuk mengemban misi ini, dan Kristus telah melaksanakannya dengan sempurna. Bahkan sampai pada menjelang akhir wafat-Nya, Dia tidak membuang kesempatan sedikitpun untuk menyelamatkan pencuri yang disalibkan bersama-Nya.
Uskup Agung Fulton Sheen mengatakan bahwa dalam peristiwa penyaliban, terjadilah suatu drama dari keinginan (wills) dari dua pencuri yang disalibkan bersama dengan Yesus.[1] Ada begitu banyak hal yang terjadi di luar diri kita, yang sering terjadi di luar kontrol kita. Namun, satu hal yang dapat kita kendalikan adalah keinginan kita. Di luar mungkin saja terjadi sesuatu yang begitu menyesakkan, membuat marah, namun kita tetap dapat memutuskan untuk tetap tenang. Bagi umat Katolik, ketenangan ini bersumber dari Kristus yang menderita, wafat dan bangkit. Oleh sebab Kristus telah mengatasi segalanya, maka kita dapat tetap tinggal tenang, sebab tak ada sesuatupun yang dapat terjadi di luar rencana Allah.
Menjadi sesuatu yang umum, bahwa pada saat seseorang disalibkan, maka dia akan menyumpahi orang yang menyalibkannya, bahwa menyumpahi dirinya, menyumpahi Tuhan dan hari kelahirannya. Namun, dua pencuri yang disalibkan mendengarkan seseorang yang disalib di tengah-tengah mereka mengatakan, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Luk 23:34). Pengampunan ini mendatangkan rahmat. Paling tidak salah satu dari pencuri ini menyambut rahmat Allah. Bahkan ketika pencuri di sebelah kiri mengatakan “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” (Luk 23:39), maka pencuri di sebelah kanan Yesus menjawab “40 Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? 41 Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” (Luk 23:40-41)
Percakapan ini mungkin terlihat sepele. Namun, kita jangan melupakan bahwa setiap kata yang keluar dari orang yang disalibkan adalah merupakan suatu penderitaan, karena setiap tarikan nafas menjadi suatu siksaan. Pencuri di sebelah kanan, yang menurut tradisi bernama Dimas, dalam keterbatasannya telah memberikan nyawanya untuk Kristus, dan dia juga menaruh pengharapan di dalam Kristus, sehingga dia memohon kepada Yesus “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” (Luk 23:42) Sungguh suatu ungkapan pengharapan dan iman yang begitu sederhana dan dalam. Terhadap ungkapan iman dan kasih ini, Yesus menjawab “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (Luk 23:43)
Mari, dalam Pekan Suci ini, kita bersama-sama merenungkan, bahwa kita yang telah menerima baptisan sakramental, seharusnya mempunyai sikap seperti yang ditunjukkan oleh Dimas, bahkan dituntut lebih. Mengapa? Karena kita telah menerima rahmat Allah yang begitu istimewa dalam Sakramen Baptis, seperti: (a) rahmat pengudusan, (b) menjadi anak-anak Allah dan dipersatukan dalam Tubuh Mistik Kristus, (c) menerima tiga kebajikan ilahi (iman, pengharapan dan kasih), (d) menerima tujuh karunia Roh Kudus seperti yang disebutkan di dalam Yes 11:2-3 (kebijaksanaan, pengertian, nasihat, keperkasaan, pengenalan, kesalehan, dan takut kepada Allah). Dengan rahmat-rahmat ini kita dimampukan untuk mengikuti perintah Kristus, yang menuntun kita kepada keselamatan kekal.
3. Yoh 19:26-27 “Ibu, inilah, anakmu!” dan “Inilah ibumu!”
Dengan penebusan-Nya di kayu salib, Kristus telah membuka jalan keselamatan bagi semua orang. Dia telah memberikan Diri-Nya dengan sehabis-habisnya. Dia telah memberikan Tubuh dan Darah-Nya di kayu salib, yang telah diantisipasi dalam Perjamuan Suci (lih. Mat 26:26-29, Mar 14:22-25, Luk 22:19-20). Namun rupanya ini tidak cukup. Memandang dari kayu salib, Kristus melihat dua orang yang dikasihi-Nya, yaitu Ibu-Nya, Bunda Maria dan murid-Nya yang terkasih, rasul Yohanes. Dengan sisa-sisa nafas-Nya, Kristus memberikan pesan yang begitu penting kepada kita, yaitu pesan ketika Kristus memandang Ibu-Nya dan murid-Nya dan berkata “Ibu (RSV = Woman), inilah, anakmu!.. dan inilah ibumu” (Yoh 19:26-27). Dalam bukunya, uskup agung Fulton Sheen mengatakan bahwa dengan menyebut woman (perempuan) dan bukan ibu, maka Kristus menginginkan bahwa Bunda Maria bukan hanya menjadi bunda Kristus saja, namun dia menjadi bunda seluruh umat beriman. Inilah sebabnya Kristus menyerahkan ibu-Nya kepada kepada murid yang dikasihi-Nya – tanpa nama, untuk menyatakan bahwa perintah ini ditujukan kepada semua murid Kristus.
Sebaliknya Kristus juga menyerahkan murid-Nya untuk menjadi putera Bunda Maria. Satu-satunya anak Maria memang tidak tergantikan, yaitu Kristus. Namun, Kristus ingin memberikan hubungan yang baru antara Maria dengan seluruh umat beriman. Kristus menginginkan agar Maria dapat menerima seluruh umat beriman sebagai anaknya, karena Kristus sendiri hadir dan bersatu dalam diri setiap umat beriman, sama seperti Kristus sendiri mengumpamakan DiriNya sebagai pokok anggur dan seluruh ranting-ranting bersatu dengan-Nya (lih. Jn 15:5). Ini berarti, Kristus menginginkan agar Bunda Maria turut berpartisipasi dalam karya keselamatan Kristus dan memperlakukan seluruh umat beriman sebagai anaknya. Suka atau tidak suka, Kristus menginginkan hal ini dan memberikan Maria sebagai bunda bagi seluruh umat beriman. Kalau Kristus tidak berkeberatan untuk dididik oleh Maria dan Maria dipandang baik oleh Kristus sebagai Bunda Allah, maka siapakah kita yang memandang bahwa kita tidak perlu menghormati Bunda Maria, bahkan ada yang menyingkirkan Bunda Maria dari kehidupannya? Apakah ada seorang pria yang merasa bahwa pacarnya terlalu berlebihan karena dia menghormati ibunya juga?
4. Mrk 15:34 “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Disaksikan oleh Bapa-Nya di Sorga dan ibu-Nya di kaki kayu salib, Yesus berkata “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Kalimat yang berkesan keputusasaan. Mungkin jeritan yang sama, sering kita teriakkan dalam kesesakan dan penderitaan kita. Kita mengetahui bahwa Kristus adalah sungguh sama seperti kita, yang telah mengecap semua yang kita alami, termasuk penderitaan. Namun, di dalam penderitaan-Nya, Dia telah menunjukkan adanya suatu kepercayaan yang kokoh akan rencana Allah. Perkataan Eli, Eli Lamasabakthani, merupakan permulaan dari Mazmur 22, yang lengkapnya adalah sebagai berikut:

1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Rusa di kala fajar. Mazmur Daud. (22-2) Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku.
2 Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab, dan pada waktu malam, tetapi tidak juga aku tenang.
3 Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.
4 Kepada-Mu nenek moyang kami percaya; mereka percaya, dan Engkau meluputkan mereka.
5 Kepada-Mu mereka berseru-seru, dan mereka terluput; kepada-Mu mereka percaya, dan mereka tidak mendapat malu.
6 Tetapi aku ini ulat dan bukan orang, cela bagi manusia, dihina oleh orang banyak.
7 Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya:
8 “Ia menyerah kepada TUHAN; biarlah Dia yang meluputkannya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya?”
9 Ya, Engkau yang mengeluarkan aku dari kandungan; Engkau yang membuat aku aman pada dada ibuku.
10 Kepada-Mu aku diserahkan sejak aku lahir, sejak dalam kandungan ibuku Engkaulah Allahku.
11 Janganlah jauh dari padaku, sebab kesusahan telah dekat, dan tidak ada yang menolong.
12 Banyak lembu jantan mengerumuni aku; banteng-banteng dari Basan mengepung aku;
13 mereka mengangakan mulutnya terhadap aku seperti singa yang menerkam dan mengaum.
14 Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendinya; hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku;
15 kekuatanku kering seperti beling, lidahku melekat pada langit-langit mulutku; dan dalam debu maut Kauletakkan aku.
16 Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku.
17 Segala tulangku dapat kuhitung; mereka menonton, mereka memandangi aku.
18 Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku.
19 Tetapi Engkau, TUHAN, janganlah jauh; ya kekuatanku, segeralah menolong aku!
20 Lepaskanlah aku dari pedang, dan nyawaku dari cengkeraman anjing.
21 Selamatkanlah aku dari mulut singa, dan dari tanduk banteng. Engkau telah menjawab aku!
22 Aku akan memasyhurkan nama-Mu kepada saudara-saudaraku dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaah:
23 kamu yang takut akan TUHAN, pujilah Dia, hai segenap anak cucu Yakub, muliakanlah Dia, dan gentarlah terhadap Dia, hai segenap anak cucu Israel!
24 Sebab Ia tidak memandang hina ataupun merasa jijik kesengsaraan orang yang tertindas, dan Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya kepada orang itu, dan Ia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong kepada-Nya.
25 Karena Engkau aku memuji-muji dalam jemaah yang besar; nazarku akan kubayar di depan mereka yang takut akan Dia.
26 Orang yang rendah hati akan makan dan kenyang, orang yang mencari TUHAN akan memuji-muji Dia; biarlah hatimu hidup untuk selamanya!
27 Segala ujung bumi akan mengingatnya dan berbalik kepada TUHAN; dan segala kaum dari bangsa-bangsa akan sujud menyembah di hadapan-Nya.
28 Sebab Tuhanlah yang empunya kerajaan, Dialah yang memerintah atas bangsa-bangsa.
29 Ya, kepada-Nya akan sujud menyembah semua orang sombong di bumi, di hadapan-Nya akan berlutut semua orang yang turun ke dalam debu, dan orang yang tidak dapat menyambung hidup.
30 Anak-anak cucu akan beribadah kepada-Nya, dan akan menceritakan tentang TUHAN kepada angkatan yang akan datang.
31 Mereka akan memberitakan keadilan-Nya kepada bangsa yang akan lahir nanti, sebab Ia telah melakukannya.
Bagi umat Yahudi, kalau seseorang memulai kalimat pertama dari Mazmur, maka berarti orang bermaksud untuk menyelesaikannya. Dan dalam kondisi tersalib, sungguh tidak mungkin untuk menyelesaikan pengucapan keseluruhan Mazmur tersebut. Ini berarti, bahwa kalimat pertama dari Mazmur 22 harus dimengerti dalam konteks keseluruhan, yaitu untuk mempercayai dan menggantungkan segala sesuatunya ke dalam tangan Bapa, yang pada akhirnya akan membawa kemuliaan, di mana seluruh ujung bumi akan mengingat dan berbalik kepada Tuhan (lih. Mzm 22:27). Ini adalah suatu pengajaran dari Kristus yang harus diikuti oleh seluruh murid Kristus tentang bagaimana menaruh pengharapan di dalam Tuhan dalam kondisi apapun. Cara dan sikap dalam menghadapi penderitaan adalah salah satu perbedaan antara orang yang mengenal Kristus dan yang tidak mengenal Kristus. Bahkan rasul Paulus mengatakan “3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, 4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. 5 Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Rom 5:3-5)
Kalau seseorang menjadi murid Kristus, maka dia akan mengikuti apa yang dilakukan oleh Kristus, termasuk adalah cara menghadapi permasalahan dan penderitaan. Karena dengan penderitaan-Nya, Kristus dapat memenangkan belenggu dosa, maka dengan menyatukan segala penderitaan kita dengan Kristus, kita akan memperoleh kemenangan, yaitu kemenangan yang menyelamatkan, yang mengantar kita pada kehidupan kekal. Kuncinya adalah menghadapi permasalahan dengan terus bertekun dalam doa yang didasarkan iman, pengharapan dan kasih, seperti yang dilakukan oleh Kristus.
Mungkin ada yang bertanya, kalau Yesus memang Tuhan, mengapa pada saat disalib, Dia berdoa? Sebenarnya, Yesus berdoa tidak hanya terbatas pada waktu Yesus disalib, namun Yesus berdoa dalam berbagai kesempatan (lih. Mt 16:23; Mt 26:36; Mk 14:32; Lk 3:21; 6:12;Lk 9:18, 28; Lk 11:1-2; Lk 18:1). Santo Thomas Aquinas membahas tentang definisi doa, dimana dia mengatakan bahwa doa adalah membuka keinginan kita kepada Tuhan, sehingga Dia dapat memenuhinya.”[2] Karena di dalam Kristus (satu pribadi) ada dua kehendak, yaitu kehendak manusia dan kehendak Tuhan, maka menjadi hal yang wajar, kalau Yesus berdoa karena Dia mempunyai kodrat manusia. Sama seperti kita sebagai orang beriman, kita menyatakan keinginan/ kehendak kita di hadapan Allah.
Alasan kedua adalah Yesus berdoa untuk kepentingan manusia. Yesus dapat saja berdoa dalam hati, namun Dia ingin menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya sebagai manusia kita berdoa, yaitu bahwa kita harus senantiasa tunduk kepada kehendak Allah Bapa, meskipun di dalam situasi yang paling sulit sekalipun.
Yesus berdoa tanpa henti, untuk mengajar manusia senantiasa berdoa di dalam segala kesempatan tanpa henti (lih. Mt 16:23; Mt 26:36; Mk 14:32; Lk 3:21; 6:12;Lk 9:18, 28; Lk 11:1-2; Lk 18:1).
Yesus mengajarkan kepada manusia bahwa di dalam doa yang terpenting adalah untuk mengikuti kehendak Tuhan, seperti yang dikatakan-Nya dalam doa-Nya di Taman Getsemani, dimana Dia berkata “”Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” (lih. Mt 26:36; Mk 14:32-36).
Yesus mengajarkan doa yang sempurna, yaitu doa Bapa Kami, yang terdiri dari tujuh petisi (lih. Mt 6:9-13).
Yesus menunjukkan bahwa di dalam setiap percobaan, maka Tuhanlah yang menjadi kekuatan dalam doa, seperti yang ditunjukkan oleh Yesus di dalam drama penyaliban (Mt 27:46; Mk 15:34; Lk 23:46).
Yesus juga mengajarkan pentingnya untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita, seperti yang ditunjukkan oleh Yesus dengan berdoa “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (lih. Lk 23:34).
Dan masih begitu banyak contoh yang lain, yang menyebabkan pengikut Kristus tahu bagaimana untuk berdoa, karena Tuhan sendiri – melalui Kristus – yang menunjukkan kepada manusia bagaimana seharusnya berdoa.
Dengan demikian, maka kita dapat melihat bahwa doa Yesus di atas kayu salib sungguh merupakan doa yang berpengharapan yang menyelamatkan dan memberikan contoh bagi seluruh umat beriman.
5. Yoh 19:28 “Aku haus!”
Contoh apalagi yang ingin diberikan oleh Kristus sebelum dia menghembuskan nafas-Nya yang terakhir ketika Dia mengatakan “Aku haus!“? Dikatakan di ayat Yoh 19:28 bahwa perkataan Yesus “Aku Haus” adalah untuk memenuhi nubuat di dalam Kitab Suci. Ini adalah pemenuhan dari Mzm 69:21 yang mengatakan “… dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam.” Dengan demikian, pernyataan Yesus merupakan penegasan bahwa Yesus yang tersaliblah yang dinubuatkan dalam Perjanjian Lama.
Memang dalam kodrat-Nya sebagai manusia, Yesus mengalami penderitaan dan kehausan yang begitu sangat. Namun, kehausan dalam kapasitas yang lebih dalam adalah kehausan untuk meyelamatkan jiwa-jiwa. Ini adalah drama pencarian Tuhan akan manusia. Drama di mana Tuhan yang dari Sorga turun ke dunia untuk menjangkau jiwa-jiwa yang tercerai berai. Kehausan ini mengingatkan kita akan permintaan Yesus kepada wanita Samaria “Berilah Aku minum” (Yoh 4:7). Dan percakapan ini pada akhirnya membawa keselamatan kepada wanita Samaria dan juga orang-orang di kota tersebut. Keselamatan wanita Samaria dan orang-orang di kota tersebut tidaklah cukup bagi Yesus, sehingga di atas kayu salib, Dia tetap merasa kehausan, karena Dia ingin menjangkau seluruh umat manusia, ingin menemukan dan mengantar seluruh umat manusia pada keselamatan dan pengetahuan akan kebenaran (lih. 1Tim 2:4)
Karena Tuhan senantiasa dalam pencarian akan manusia, maka sejak dari Perjanjian Lama dikatakan “13 apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, 14 Aku akan memberi kamu menemukan Aku” (Yer 29:13-14) Inilah sebabnya ketika seseorang menyadari bahwa dia memerlukan Tuhan, ketika seseorang melihat penderitaan dalam kacamata iman, ketika seseorang menerima penderitaan dengan tabah, ketika seseorang mau menyangkal dirinya dan memikul salibnya dan mengikuti Kristus, maka Tuhanlah yang sebenarnya menjadi penggerak utama dari semuanya itu. Dalam drama penyaliban, terutama perkataan Yesus bahwa Dia haus, kita menyaksikan akan drama tentang Tuhan yang sungguh mencintai manusia dengan sehabis-habisnya. Bagaimana tanggapan manusia? Bagaimana tanggapan kita?
6. Yoh 19:30 “Sudah selesai”
Setelah prajurit memberikan bunga karang yang telah dicelupkan pada anggur asam, lalu Yesus meminumnya dan berkata “sudah selesai” (lih. Yoh 19:30). Kita dapat melihat adanya tiga hal yang berkaitan dengan “sudah selesai”. Di dalam Kitab Kejadian, setelah Tuhan menyelesaikan penciptaan, maka pada hari ke tujuh, Dia mengatakan “Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan (finished His work) yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. ” (Kej 2:2) Dan Kitab Wahyu menuliskan “Semuanya telah terjadi (it is done). Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.” Ini berarti, penciptan dunia dan kemenangan di Sorga hanya dapat terjadi kalau pekerjaan yang dilakukan Yesus telah selesai. Dan dalam konteks inilah Yesus mengatakan “sudah selesai” untuk menyatakan bahwa Dia telah menyelesaikan pekerjaan yang diberikan oleh Bapa dengan sempurna, bukan dengan keputusasaan dan kegetiran, namun dengan dasar kasih yang sempurna. Inilah yang membuat persembahan Kristus di kayu salib dapat menyenangkan hati Bapa – yaitu karena didasarkan kasih yang sempurna.
Ini juga yang seharusnya mendorong kita dalam perjalanan kehidupan kita. Sama seperti Rasul Paulus, kita juga ingin berlari ke tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan Sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus (lih. Flp 3:14).
7. Luk 23:46 “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.”
Kata yang terakhir dari Yesus setelah mengatakan “sudah selesai” adalah “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku“. Dalam satu kalimat ini, kita dapat melihat hubungan yang sungguh dalam dan tak terpisahkan antara Bapa dan Putera. Bapa begitu mencintai manusia, sehingga Dia mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk menebus dosa dan menyelamatkan manusia (lih. Yoh 3:16). Kristus datang ke dunia dan senantiasa melaksanakan kehendak Bapa. Dari umur duabelas tahun, Kristus telah mengatakan bahwa Dia harus berada di dalam rumah Bapa-Nya (Luk 2:49). Dalam seluruh karya-Nya, Kristus senantiasa melakukan apa yang berkenan kepada Bapa (lih. Yoh 8:29). Sampai pada akhirnya, Kristus menyerahkan nyawaNya ke dalam tangan Bapa (lih. Luk 23:46). Dengan kebebasan-Nya, Kristus melakukan kehendak Bapa.
Bagaimana dengan kita? Bagaimana kita menggunakan kebebasan kita? Orang sering salah dalam mengartikan kebebasan. Orang sering mengartikan kebebasan sebagai “kebebasan dari / freedom from” dan bukan “kebebasan untuk / freedom for“. Kebebasan yang lebih menekankan “kebebasan dari” merupakan ekspresi akan keinginan yang terbebas dari hal-hal yang dianggap mengikatnya, termasuk tanggung jawab. Orang yang menginginkan kebebasan untuk minum minuman keras tanpa mau dibatasi jumlahnya, cepat atau lambat akan menemukan bahwa dirinya tidak lagi bebas. Dia akan terikat akan minuman keras, dan tidak lagi mempunyai kebebasan untuk mengatakan tidak terhadap minuman keras. Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa mengumbar kebebasan tanpa adanya batasan yang jelas dapat membuat manusia menjadi tidak bebas lagi. Katekismus Gereja Katolik mendefinisikan kebebasan sebagai berikut:
. Kebebasan adalah kemampuan yang berakar dalam akal budi dan kehendak, untuk bertindak atau tidak bertindak, untuk melakukan ini atau itu, supaya dari dirinya sendiri melakukan perbuatan dengan sadar. Dengan kehendak bebas, tiap orang dapat menentukan diri sendiri. Dengan kebebasannya, manusia harus tumbuh dan menjadi matang dalam kebenaran dan kebaikan. Kebebasan itu baru mencapai kesempurnaannya apabila diarahkan kepada Allah, kebahagiaan kita.

1. Luk 23:34 “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”
2. Luk 23:43 “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”
3. Yoh 19:26-27 “Ibu, inilah, anakmu!” dan “Inilah ibumu!”
4. Mrk 15:34 “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
5. Yoh 19:28 “Aku haus!”
6. Yoh 19:30 “Sudah selesai”
7. Luk 23:46 “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.”
Melaksanakan tujuh pesan terakhir Yesus mengantar kita kepada keselamatan

Minggu, 22 April 2012

Perbedaan Jesus dengan Adam


TENTANGAN: Atas dasar Al-Quran, orang-orang Muslim menyangkal bahwa Kristus adalah Anak Allah dan dengan itu menolak iman Kristen akan Allah Tritunggal. Mereka menemukan penegasan yang penting akan penyangkalan terhadap keilahian Kristus di dalam bagian Al-Quran yang membandingkan Kristus dengan Adam, sebagaimana yang ditemukan di dalam Surat Al Imran 3:59, “Sesungguhnya misal (penciptaan) 'Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia.” Orang-orang Muslim melihat ayat ini sebagai bukti bahwa Kristus adalah sama dengan Adam, hanya sekedar manusia ciptaan Allah belaka. Apakah benar bahwa orang-orang Muslim, menurut Al-Quran, harus percaya bahwa Kristus adalah sama seperti Adam, dan karena itu tidak mungkin Ia adalah Allah? Tidak adakah bagian di dalam Al-Quran yang bisa membawa kepada iman akan keilahian Kristus?   JAWAB: Untuk menjawab pertanyaan itu, kita harus membandingkan Adam dengn Kristus di dalam bagian-bagian lain dalam Al-Quran: 1. Tentang orangtua Adam dan Kristus: Al-Quran memang mengatakan bahwa Adam dan Kristus sama-sama tidak memiliki ayah manusia. Dalam hal itu keduanya sama. Tetapi ada juga perbedaan besar di antara keduanya: Adam TIDAK memiliki ibu, karena ia diciptakan dari debu tanah. Sedangkan Kristus, MEMILIKI ibu, karena di dalam Al-Quran Ia sering disebut Putera Maryam sampai 13 kali (yaitu, Anak Maria, misalnya di dalam Q.S 2:87 dan 57:27). Jadi Kristus tidak diciptakan dari debu tanah sebagaimana Adam, seperti yang dituliskan di dalam Q.S 3:59.   2. Apa yang dikatakan Allah kepada Adam dan kepada Kristus: Kita melihat adanya perbedaan besar antara Adam dengan Kristus di dalam Al-Quran kalau kita memperhatikan apa yang dikatakan oleh Allah kepada Adam dan apa yang dikatakan-Nya kepada Kristus. Dalam konteks pelanggaran yang dilakukan oleh Adam di Taman Firdaus, kita melihat tulisan Al-Quran demikian: “...dan Kami (Allah) berfirman (kepada Adam) : "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain...” (Surat al-Baqara 2:36).   Namun, dalam konteks serangan orang-orang Yahudi kepada Kristus dan akhir dari kehidupan pelayanan-Nya kita melihat di dalam Al-Quran mengatakan, “(Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang kafir....'…” (Surat Al 'Imran 3:55) Atas dasar perkataan Al-Quran kita harus menunjukkan adanya perbedaan besar di antara Adam dan Kristus di dalam Al-Quran: a) Kepada Adam Allah mengatakan, “Turunlah kamu dari Taman Firdaus!” Kepada Kristus, Allah justru mengatakan, “Aku mengangkat kamu kepada-Ku!” b) Adam diturunkan dari kedudukannya di hadapan Allah dan tahta-Nya, sementara Kristus diangkat kepada Allah dan tahta-Nya. c) Adam berdiam di bumi dan tidak lagi ada di surga; Kristus, berdiam di surga, dan tidak ada lagi di bumi. d) Adam memulai kehidupannya di surga dan berakhir di bumi; sementara Kristus (menurut Al-Quran) memulainya di bumi dan berakhir di surga. e) Lebih lanjut, Allah mengatakan kepada Adam, “Kamu menjadi musuh yang lain!” Tetapi kepada Kristus Allah mengatakan, “Aku membersihkan kamu dari orang-orang kafir!” f) Adam dicemarkan oleh kebencian dan permusuhan. Namun, Kristus, menurut Al-Quran, dibersihkan dari dosa-dosa orang-orang lain, karena Ia sendiri tidak memiliki dosa. g) Kecemaran Adam sama sekali tidak menunjukkan sifat keilahian! Mengapa orang-orang Muslim harus menyucikan dirinya sebelum menghadap Allah di dalam doa? Kesucian Kristus, adalah sifat Ilahi! Bagaimana mungkin Allah akan bisa menyucikan Kristus, kalau Ia sendiri tidak suci?   3. Apa yang dikatakan malaikat tentang Adam dan Kristus: Perbedaan yang lebih besar di antara Adam dan Kristus bida ditemukan ketika kita membaca di dalam Al-Quran mengenai apa yang dikatakan para malaikat tentang Adam dan tentang Kristus. Bahkan sebelum penciptaan Adam dari debu tanah para malaikat berkata kepada Allah, “... "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?...” (Surat al-Baqara 2:30). Namun, sebelum janin Kristus secara ajaib dimasukkan ke dalam rahim ibu-Nya, para malaikat berkata kepada Maria, “... "Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kalimat (kalimatun) daripada-Nya, namanya Al Masih 'Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), ... dia adalah termasuk orang-orang yang saleh.” (Surat Al 'Imran 3:45-46).   Atas dasar kedua bagian di dalam Al-Quran itu, kita bisa menunjukkan lagi perbedaan yang lebih besar antara Adam dengan Kristus: a) Menurut Al-Quran, malaikat mengatakan tentang Adam sebagai “”orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah!” Namun, tentang Kristus mereka mengatakan, (sekali lagi, menurut Al-Quran), “Allah menggembirakan kamu dengan kalimat daripada-Nya, nama-Nya Al Masih ‘Isa putera Maryam!” b) Adam membuat keadaan dunia menjadi semakin buruk, dengan membuat kerusakan di dalamnya. Namun, Kristus, adalah kalimat Allah, dan karena itu, penuh dengan kuasa Ilahi yang sangat berguna. Lebih lagi, Ia adalah seorang yang saleh, dan karena itu sangat berbeda dengan Adam, yang membuat kerusakan. c) Tidak pernah ditemukan di dalam Al-Quran pernyataan bahwa Adam sangat terpuj, baik di dunia sekarang maupun di akhirat. Namun tentang Kristus dituliskan, bahwa ia bukan hanya terkemuka di dunia ini, tetapi juga di akhirat. d) Adam bukanlah orang yang berada dekat dengan Allah, karena ia diusir dari Firdaus ke dunia, menjauh dari Allah. Tentang Kristus, ada tertulis bahwa Ia adalah salah satu dari mereka yang dekat dengan Allah (almuqarrabina). Hanya mereka yang memiliki sifat-sifat milik Allah yang bisa dekat dengan Dia. Kata dalam bahasa Rab yang dipakai untuk menjelaskan tentang Kristus (al-muqarrabina) sangat dekat dengan kata yang dipakai untuk menjelaskan orang yang “memiliki hubungan kerabat dengan seseorang” (qarib). Kalau Kristus dekat dengan Allah, maka Ia adalah kerabat Allah!   4. Perbedaan selanjutnya antara Adam dengan Kristus: Sebagai tambahan, orang bisa menemukan di dalam Al-Quran perbedaan yang sangat mendasar di antara Adam dengan Kristus. Beberapa contoh dituliskan di bawah ini: a) Adam tidak melakukan perkara Ilahi apapun, dan sepenuhnya tunduk kepada hakekat kemanusiaan. Namun, Kristus, melakukan mujizat Ilahi: Ia menciptakan, Ia melihat apa yang tersembunyi, Ia menyucikan orang sakit, dan membangkitkan orang mati (bangkit kembali dari kematian Q.S 3:49)--semua perbuatan Ilahi. b) Adam tidak taat kepada Allah; karena itu, Allah menurunkan dia dari surga ke dunia (Q.S 2:36). Namun, Kristus taat kepada Allah; karena itu Allah mengangkat-Nya kepada diri-Nya (Q.S 3:55 dan 4:157). c) Adam tidak dikuatkan dengan Roh Allah, karena itu ia jatuh ke dalam jebakan Iblia (Q.S 7:20 dan 20:120). Kristus, dikuatkan dengan Roh Allah, dan karena itu Iblis tidak memiliki kuasa atas diri-Nya (Q.S 2:87, 253; 5:110) d) Adam berdosa dan melahirkan anak-anak yang berdosa. Namun, Kristus tidak melakukan dosa, justru, Ia menyucikan dan dengan itu menyembuhkan orang yang sakit (Q.S 3:49).

 KHABAR BURUK: Ayat di dalam Q.S 3:49, yang mengatakan bahwa Kristus sama dengan Adam, justru bertentangan dengan apa yang dikatakan di dalam bagian-bagian lain di dalam Al-Quran mengenai Adam dan Kristus. Di sana ditemukan banyak sekali perbedaan di antara keduanya, sampai Q.S 3:49 tidak lagi bisa dipakai sebagai bukti untuk menyangkal keilahian Kristus.   KABAR BAIK: Al-Quran menegaskan tentang keilahian Kristus, karena Al-Quran menaruh kepada-Nya banyak sifat-sifat Allah: sebagaimana Allah, Kristus itu suci (taahir), sebagaimana Allah, Ia menghidupkan (muhyi), sebagaimana Allah, Ia menciptakan (khaaliq), dan sebagaimana Allah, Ia menyucikan (mubri'). Lebih lagi, karena Kristus dijelaskan sebagai kalimat Allah dan sebagai Yang Didekatkan kepada-Nya / kerabat Allah, tidak ada keraguan lagi di dalam Al-Quran bahwa Kristus adalah Allah. Kristus lebih memiliki kesamaan dengan Allah, menurut Al-Quran, dibandingkan dengan Adam.



 DOA: Ya Allah yang Kudus, saya bersyukur bahwa Kristus melakukan banyak mujizat Ilahi, dan bahwa Ia sekarang ada di surga. Tolonglah saya untuk menerima bahwa Kristus bukanlah sedar makhluk ciptaan, seperti Adam, tetapi bahwa Ia adalah Firman-Mu, penuh dengan kekudusan Ilagi dan kuasa penciptaan. Bukalah telinga dan mata saya, sehingga saya bisa melihat dan mendengar siapa Kristus yang sebenarnya. 

PERTANYAAN: Bagaimanakah Kristus berbeda dengan Adam, menurut perkataan Al-Quran? Persamaan perbuatan dan sifat apakah yang dimiliki Kristus yang sama dengan Allah di dalam Al-Quran?

 UNTUK DIHAFAL: “Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" -- berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu --: "Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!" Dan seketika itu juga bangunlah ia, di depan mereka, lalu mengangkat tempat tidurnya dan pulang ke rumahnya sambil memuliakan Tuhan.” (Lukas 5:24-25 – Perkataan Kristus di dalam Injil).

Kisah penyalipan

Penyaliban, kematian dan kebangkitan dari Yesus Kristus adalah inti dari keimanan Kristen. Penyaliban adalah penebusan dosa-dosa manusia yang mau percaya, sementara kebangkitan adalah tanda bahwa Yesus Kristus mempunyai kuasa untuk mengalahkan maut. Berikut akan Saya paparkan sedikit cerita dan penjelasan tentang penyaliban, kematian dan kebangkitan Yesus berdasarkan Injil.

   PENYALIPAN YESUS MENURUT KE 4 INJIL: Ke 4 Injil menyatakan jelas bahwa Yesus disalibkan dan mati dikayu salib :   Matius 27:50 Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya. Markus 15:37 Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya. Lukas 23:46 Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya. Yohanes 19:30 Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.   Ke 4 Injil menyatakan jelas bahwa Yesus disalibkan dan mati dikayu salib.   Seorang kristolog Muslim menolak laporan ke 4 Injil dengan menyatakan tidak ada saksi yang menyaksikan peristiwa tersebut :   Sumber :   The Choice Ahmad Deedat   BAGIAN 4: Crucifixion(Penyaliban) atauCruci-Fiction(Kisah Penyaliban)
BAB III : MENDIRIKAN KERAJAAN TUHAN    Hal yang mengherankan dalam bukti-bukti yang dimiliki orang Kristen (yang ditulis oleh Matius, Markus, Lukas dan Yohanes) adalah bahwa tak ada satu pun yang bisa dibuktikan keasliannya, saya dengan rendah hati berani menegaskan bahwa dokumen-dokumen yang tidak ada pembuktiannya tersebut tidak akan diterima di semua pengadilan di peradaban manapun, hanya dalam tempo 2 menit. Selain itu, Markus, salah seorang yang dinyatakan sebagai saksi mengatakan bahwa di saat Yesus dalam keadaan kritis. "Lalu semua murid itu meninggalkan dia dan melari-kan diri". (Markus 14: 50). Jadi orang yang disebut 'saksi mata' di sini tidak benar-benar menjadi saksi mata terhadap kejadian tersebut   Pendapat Ahmad Deedat jelas salah dengan memperhatikan hal-hal berikut :   1. Tentang keabsahan 4 Injil kanonik Laporan-laporan kuno jelas menyatakan bahwa ke 4 Injil adalah otentik. Sumber : Memahami Perjanjian Baru Pengantar Historis dan Teologis John Drane PT BPK Gunung Mulia, 2001, Bab D 10, 11 dan 12 Komentar-komentar bapa gerejawi yang paling awal.   A. Injil Matius : Komentar tertua dari Papias murid rasul Yohanes (lahir 40 M – 130 M), “Matius menulis Injilnya dalam bahasa Ibrani dan masing-masing menafsirkan menurut kesanggupannya”. B. Injil Markus : Komentar tertua dari Papias murid rasul Yohanes (lahir 40 M - wafat 130 M) dalam buku History bab III subab 39 sbb : “Markus adalah penterjemah Petrus, ia menulis secara teliti, tetapi tidak secara berurutan, sebanyak mungkin dari apa yang dapat diingatnya tentang hal-hal yang dikatakan dan dilakukan oleh Kristus” C. Injil Lukas : Komentar tertua berasal dari Clement dari Alexandria (murid rasul Petrus dan rasul Paulus) yang menjadi Uskup di Roma tahun 92 M – 101 M menyebutkan Lukas sebagai penulisnya. Lukas sendiri adalah teman seperjalanan rasul Paulus (Kolose 4 : 14, Filemon 24 : 2 dan 2 Tim 4 :11) D. Injil Yohanes : Komentar dari Ireneus (115 M – 180 M) sbb : “Yohanes, murid Tuhan, yang duduk dekat Dia waktu makan bersama menerbitkan Injil itu waktu ia ada di Efesus di Asia”   2. Tentang Saksi Penyaliban Ahmad Deedat jelas hanya mengambil 1 ayat saja yaitu Markus 14 : 50 untuk menyokong pendapatnya. Namun diayat-ayat lainnya dalam Injil jelas mencatat apa yang kemudian terjadi.   Rasul Petrus mengikuti dari jauh. Lukas 22 : 54 : Lalu Yesus ditangkap dan dibawa dari tempat itu. Ia digiring ke rumah Imam Besar. Dan Petrus MENGIKUT DARI JAUH. Banyak pengikut Yesus melihat penyaliban tersebut Matius 27 : 55 – 56 : 27:55 Dan ada di situ banyak perempuan yang melihat dari jauh, yaitu perempuan-perempuan yang mengikuti Yesus dari Galilea untuk melayani Dia. 27:56 Di antara mereka terdapat Maria Magdalena, dan Maria ibu Yakobus dan Yusuf, dan ibu anak-anak Zebedeus. Yohanes sempat mendekat bersama-sama dengan Maria. Yohanes 19 : 26 – 27 : Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya DISAMPINGNYA, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.   Jadi ada banyak saksi dari pengikut Yesus yang melihat peristiwa tersebut. Sebaliknya Muhammad SAW yang lahir 600 tahun kemudian jelas TIDAK MENYAKSI APA YANG TERJADI MELAINKAN HANYA MENGETAHUI SEPOTONG~ SEPOTONG KEMUNGKINAN DARI HASIL DENGAR ~DENGARAN .   Pertanyaan selanjutnya yang akan timbul adalah berapa lamakah Yesus mati di kubur-Nya? 1. Tiga hari dan tiga malam Matius 12:40 - "Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam." 2. Kurang dari tiga hari dan tiga malam Matius 28:1 "Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu." Markus 16:2 "Dan pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, setelah matahari terbit, peHARrgilah mereka ke kubur." Lukas 24:1 "tetapi pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka." Yohanes 20:1 "Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur." Pada penggalan Yahudi, satu hari diukur mulai dari terbenamnya matahari hingga terbenamnya matahari keesokan harinya. Jika Yesus berada di kubur selama 3 x 24 jam, maka Ia tidak mungkin telah bangkit pada hari yang ketiga karena hari yang ketiga belumlah komplit 24 jam. Ia harus bangkit pada hari keempat supaya genap masa 3 x 24 jam, kalau tidak maka tidak masuk akal mengatakan bahwa Ia dikubur tiga hari tiga malam tetapi bangkit pada hari yang ketiga.   Jadi, apa yang telah terjadi? Perhatikan penjelasan dibawah ini KAMIS Dimulai saat matahari terbenam di hari Rabu (malam) Berakhir pada saat matahari terbenam (siang)HARI 1  (JUMAAT) = PENYALIPAN Dimulai saat matahari terbenam di hari Kamis (malam) Berakhir pada saat matahari terbenam (siang) HARI 2  (SABTU) = SABAT Dimulai saat matahari terbenam di hari Jumat (malam) Berakhir pada saat matahari terbenam (siang) HARI 3 (MINGGU) =  YESUS BANGKIT Dimulai saat matahari terbenam di hari Sabtu (malam) Berakhir pada saat matahari terbenam (siang) Solusinya sederhana saja, orang Yahudi mempunyai adat bahwa bagian dari satu hari, sependek apa pun, akan tetap dihitung sebagai satu hari penuh (24 jam). 1. Berhubung orang Yahudi menghitung sebagian dari satu hari sebagai satu hari penuh (24 jam), maka istilah "tiga hari tiga malam" adalah benar dan berlaku jika penyaliban terjadi di hari Jumat. 2. Fenomema ini ditemukan pula pada kitab Ester. "Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati." (Ester 4:16). Lalu, dalam Ester 5:1 dikatakan, "Pada hari yang ketiga Ester mengenakan pakaian ratu, lalu berdirilah ia di pelataran dalam istana raja, tepat di depan istana raja. Raja bersemayam di atas takhta kerajaan di dalam istana, berhadapan dengan pintu istana itu." Dapat kita lihat di sini bahwa meskipun tiga hari tiga malam belumlah komplit, Ester telah pergi menghadap Raja pada hari yang ketiga meskipun dia memerintahkan untuk berpuasa selama tiga hari tiga malam. Bisa kita lihat di sini bahwa "pada hari yang ketiga" sama dengan "setelah tiga hari." KAMIS Dimulai saat matahari terbenam di hari Rabu (malam) Berakhir pada saat matahari terbenam (siang) HARI 1 (JUMAAT) = PENYALIPAN Dimulai saat matahari terbenam di hari Kamis (malam) Berakhir pada saat matahari terbenam (siang) HARI 2 (SABTU) = SABAT Dimulai saat matahari terbenam di hari Jumat (malam) Berakhir pada saat matahari terbenam (siang) HARI 3 (MINGGU)) = YESUS BANGKIT Dimulai saat matahari terbenam di hari Sabtu (malam) Berakhir pada saat matahari terbenam (siang) Solusinya sederhana saja, orang Yahudi mempunyai adat bahwa bagian dari satu hari, sependek apa pun, akan tetap dihitung sebagai satu hari penuh (24 jam). 1. Berhubung orang Yahudi menghitung sebagian dari satu hari sebagai satu hari penuh (24 jam), maka istilah "tiga hari tiga malam" adalah benar dan berlaku jika penyaliban terjadi di hari Jumat. 2. Fenomema ini ditemukan pula pada kitab Ester. "Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati." (Ester 4:16). Lalu, dalam Ester 5:1 dikatakan, "Pada hari yang ketiga Ester mengenakan pakaian ratu, lalu berdirilah ia di pelataran dalam istana raja, tepat di depan istana raja. Raja bersemayam di atas takhta kerajaan di dalam istana, berhadapan dengan pintu istana itu." Dapat kita lihat di sini bahwa meskipun tiga hari tiga malam belumlah komplit, Ester telah pergi menghadap Raja pada hari yang ketiga meskipun dia memerintahkan untuk berpuasa selama tiga hari tiga malam. Bisa kita lihat di sini bahwa "pada hari yang ketiga" sama dengan "setelah tiga hari." Sebagai tambahan, Markus 8:31 mengatakan, "Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari." Meskipun demikan, 1 Korintus 15:4 mengatakan, "bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;" Demikian juga, Lukas 24:5-7, "Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala, tetapi kedua orang itu berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga."   Dari ayat-ayat ini frasa "setelah tiga hari" setara dengan "pada hari yang ketiga."Sehingga, kita dapat melihat bahwa berhubung orang Yahudi menghitung sebagian dari satu hari sebagai satu hari penuh (24 jam), maka istilah "tiga hari dan tiga malam" adalah istilah idiomatik dan bukan istilah literal. Petunjuk lain atas kemungkinan ini dapat dilihat melalui perbandingan dua ayat dalam pola sebelum-dan-sesudah-Paskah. "Dan setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur. Dan pada hari Sabat mereka beristirahat menurut hukum Taurat," (Lukas 23:56). SABAT "Setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus," (Markus 16:1).         KEBANGKITAN YESUS MENURUT 4 INJIL Matius 28:5-10 28:10 Maka kata Yesus kepada mereka: "Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku." Markus 16:2-14 16:14 Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya. Lukas 14:1- 48 24:44 Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur." 24:45 Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. 24:46 Kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, 24:47 dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. 24:48 Kamu adalah saksi dari semuanya ini. Yohanes 20:1-29 20:28 Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!" 20:29 Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." Jadi ke-4 Injil secara konsisten mencatat kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Kebangkitan Yesus adalah secara fisik   Kebangkitan Yesus adalah suatu doktrin yang fundamental dan esensial dalam Kekristenan. Kebangkitan Yesus adalah begitu pentingnya sehingga tanpa kebangkitan Yesus maka Kekristenan adalah kepalsuan/omong kosong belaka. Paulus menuliskan dalam 1 Korintus 15:14 "Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu." Tiga ayat kemudian, dalam ayat ke-17, kembali ia menegaskan, "Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu” (1 Korintus 15:17).   Meskipun ada banyak pokok-pokok di mana sesama orang Kristen bisa saling berbeda pendapat, tetapi masalah kebangkitan ini bukanlah hal yang mereka ragukan. Menolak kebangkitan Yesus adalah sama dengan menolak Kekristenan itu sendiri. Problem yang sering diperdebatkan mengenai kebangkitan Yesus bukanlah pada kenyataan bahwa Yesus memang bangkit, tetapi pada bagaimana Ia bangkit. Sayangnya, kaum kultus menyerang kebangkitan Yesus dan menafsirkannya dengan cara yang berlainan dari yang diyakini oleh orang Kristen, yaitu menolak kebangkitan-Nya secara fisik.   Kita harus bertanya apakah Yesus bangkit dari kematian dalam tubuh yang sama dengan tubuh ketika Ia mati atau dalam tubuh spiritual yang tidak terbuat dari darah dan daging? Jawaban atas pertanyaan ini sangatlah vital. Jawaban atas pertanyaan inilah yang membedakan Kekristenan sejati dari sistem-sistem kepercayaan palsu lainnya. Karenanya, inilah doktrin yang benar mengenai kebangkitan Kristus. Kita menganggap hal ini sangat penting, sehingga kita harus mengkhususkan dan menegaskan pernyataan mengenai kebangkitan Kristus ini sebagai suatu pernyataan kebenaran.   Yesus bangkit dari kematian dalam tubuh yang sama dengan tubuh yang dibawa-Nya mati. Tubuh yang telah dibangkitkan ini adalah suatu tubuh yang telah dipermuliakan. Pernyataan di atas adalah pernyataan yang benar sesuai doktrin yang Alkitabiah. Dengan demikian, pernyataan ini berlawanan dengan pendapat kaum Saksi Yehovah dan kaum Shepherd's Chapel yang menyatakan bahwa Yesus tidak bangkit dalam bentuk tubuh, tetapi secara spiritual. Kedua kelompok ini tidak berupaya menolak pernyataan Alkitab mengenai kebangkitan Yesus, tetapi mereka merubah makna dari kebangkitan itu sehingga menjadi sama sekali tidak pernah terjadi.   Apakah Yesus bangkit dari kematian dalam tubuh yang sama dengan yang dibawa-Nya mati? Absolutely …!!! Setelah kebangkitan-Nya Yesus mampu untuk makan (Lukas 24:42-43). Ia menunjukkan kepada orang-orang tangan dan kaki-Nya yang memiliki bekas luka paku (Lukas 24:51; Yohanes 20:27), dan orang-orang bahkan bisa merangkul kaki-Nya untuk menyembah Dia (Matius 28:9) Setelah laporan mengenai kebangkitan Yesus menyebar luas, Tomas, yang meragukan kebangkitan Kristus, berkata,"Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." (Yohanes 20:25). Kemudian, Yesus muncul di hadapan Tomas dan berkata kepadanya,"Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." (Yohanes 20:27).   Jika tubuh Yesus tidak pernah bangkit, maka Ia tidak mungkin memiliki kaki dan tangan yang memiliki lubang-lubang bekas paku dari penyaliban-Nya. Pertimbangkanlah ayat-ayat berikut ini sebagai bukti lebih jauh mengenai Kebangkitannya dalam tubuh kematian-Nya:   "Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. (Yohanes 20:19-20).   "Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku." (Lukas 24:38-39).   Jelas sekali bahwa Yesus bangkit dalam tubuh yang sama dengan tubuh yang dibawa-Nya mati, dengan lubang-lubang yang sama pada tangan dan kaki-Nya. Kita juga melihat bahwa Yesus mengumumkan bahwa diri-Nya masih memiliki daging dan tulang.   Apakah "tubuh roh" terdiri dari daging dan tulang? Sama sekali tidak. Kita pernah mendengar ada orang yang mengatakan bahwa tubuh jasmani Yesus telah mati dan tubuh rohani-Nya yang dibangkitkan. Jika memang demikian, apakah tubuh spiritual itu memiliki daging dan tulang sebagaimana tubuh jasmani?   Rasanya pernyataan itu tidak masuk akal.   Lagi pula, jika Yesus tidak bangkit secara fisik, lalu apakah yang terjadi dengan tubuh fisik-Nya? Teruraikah? Dipindahkan ke tempat lainkah?   Tidak ada catatan apapun mengenai apa yang terjadi kemudian terhadap tubuh Yesus yang telah mati selain daripada bahwa tubuh itu telah dibangkitkan. Karena itulah, tubuh-Nya telah bangkit dari kematian. Yohanes 2:19-21 "Jawab Yesus kepada mereka: "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali." Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: "Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?" Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri. Frase "Aku akan mendirikan" diterjemahkan dari satu kata tunggal dalam bahasa Yunani yaitu "egeiro." "Egeiro" berkala (tense) masa depan, aktif, indikatif, orang pertama tunggal (future, active, indicative, 1st person singular). Bentuk aktif dalam bahasa Yunani menentukan siapakah yang akan melakukan suatu perbuatan. Dalam hal ini, karena merupakan bentuk orang pertama tunggal ("Aku"), maka Yesus sedang mengatakan bahwa Ia sendiri yang akan melakukan perbuatan kebangkitan itu. Seperti itulah makna kalimat tersebut dalam bahasa Yunaninya.   Tetapi, beberapa pihak masih juga menolak bahwa Yesus secara fisik telah bangkit dari kematian, bahkan ketika mereka mempelajari Yohanes 2:19-21. Kita dapat melihat dengan jelas bahwa Yesus telah menubuatkan bahwa Ia akan mendirikan kembali Bait Allah yang adalah tubuh-Nya sendiri sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat 21 oleh Rasul Yohanes yang menyatakan bahwa yang dimaksud Yesus dengan Bait Allah adalah tubuh-Nya sendiri. Karenanya, ini seharusnya menjadi bukti yang tidak dapat disangkal lagi bahwa Yesus memang bangkit dari kematian-Nya dalam tubuh yang sama dengan tubuh yang dibawa-Nya mati. Jelas-jelas, Yohanes 2:19-21 menunjukkan kepada kita bahwa Yesus telah meramalkan kebangkitan-Nya sendiri secara fisik dalam tubuh yang sama dengan yang dibawa-Nya mati (dirombak oleh orang Israel) dan Ia melakukan-Nya.   Beberapa orang (dan bahkan beberapa organisasi) berupaya meminimalkan atau bahkan menyanggah kebangkitan fisik Kristus. Mengapa ? Mungkin karena itu meruntuhkan pernyataan-pernyataan Yesus akan keilahian-Nya. Seorang nabi harus 100 persen akurat untuk menjadi seorang nabi Tuhan, dan Yesus dengan jelas mengindikasikan bahwa Ia akan bangkit kembali secara fisik dari kematian (Yohanes 2:19-22) atau mungkin orang-orang ingin mengurangi peran dan kuasa Yesus.   Fakta-fakta dengan jelas menyatakan bahwa kebangkitan Yesus nyata dan bersifat fisik. Kebangkitan merupakan peristiwa yang amat sangat penting bagi orang-orang Yahudi di daerah itu. Kaum Saduki dan Farisi berdebat sengit tentang konsep kebangkitan, lama sebelum Yesus. Setelah Paskah pertama, orang-orang berselisih tentang Kebangkitan, orang-orang memenjarakan orang lain karena Kebangkitan, bahkan banyak orang-orang mati karena Kebangkitan. Pada masa sesudah Kebangkitan, tidak ada keraguan bahwa banyak orang percaya bahwa Yesus muncul kembali dalam wujud fisik. Laporan-laporan yang dicatat dalam Perjanjian Baru berhasil bertahan dalam ujian pemeriksaan saksi mata. Laporan-laporan tentang kebangkitan dapat dengan mudah dipertanyakan oleh orang-orang pada masa itu. Pada masa awal, tidak ada catatan tentang siapapun yang menyatakan bahwa Yesus adalah sesosok bayangan (hantu) atau halusinasi atau "makhluk halus". Agar memiliki makna penting, kebangkitan harus merupakan kebangkitan tubuh, seperti yang diindikasikan oleh Yesus sendiri. Beberapa rujukan mendukung ini. Makan, Minum, Menjamah Apakah roh dapat makan ? Minum ? Menjamah ? Tidak ada bukti historis akan wujud roh apapun yang dapat melakukan fungsi-fungsi manusia kecuali roh itu menjadi manusia terlebih dahulu (misalnya malaikat menjadi manusia). Yesus, di sisi lain, secara spesifik membuat verifikasi penting akan eksistensi fisik-Nya dengan makan dan minum setelah kebangkitan (Lukas 24:37-43). Apakah roh atau halusinasi dapat disentuh atau dirasakan ? Tomas,murid yang paling peragu, pasti percaya bahwa menjamah merupakan kriteria utama untuk "bukti". Yesus secara fisik menampakkan diri kepada Tomas (dan yang lainnya), menantang dia untuk melihat bekas paku di kedua tangan-Nya dan menjamah pinggang-Nya (Yohanes 20:25-28).   Apakah bukti ini cukup untuk menghentikan debat yang tidak perlu? Jelas kiranya bahwa kebangkitan fisik Yesus adalah realita. Tetapi, keberatan-keberatan telah diajukan atas kenyataan ini. Kita mungkin bisa memahaminya, tetapi ternyata pertentangan terus muncul. 1) 1 Korintus 15:35, 39, 42-44 Tetapi mungkin ada orang yang bertanya: "Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?" Bukan semua daging sama: daging manusia lain dari pada daging binatang, lain dari pada daging burung, lain dari pada daging ikan. Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah. Ayat 44 di atas telah dipakai oleh berbagai pihak untuk meneguhkan ide mereka bahwa Yesus tidak bangkit secara fisik, tetapi secara spiritual. Tentu saja, kita telah menunjukkan di atas bahwa Yesus telah dibangkitkan dalam tubuh yang sama dengan tubuh yang dibawa-Nya mati, dengan lubang yang sama pada tangan dan kaki-Nya. Kita juga melihat bahwa Yesus telah memproklamasikan bahwa Ia memiliki daging dan tulang (Lukas 24:39). Lagi pula, apakah "tubuh rohaniah" terdiri dari daging dan tulang? Alkitab tidak pernah memuat tentang hal seperti itu. Paulus tidak menyatakan bahwa ada dua jenis tubuh yang berbeda pada diri seseorang, yaitu tubuh alamiah dan tubuh rohaniah, di mana setelah kematian tubuh alamiah, tubuh kedua yang berbeda yaitu tubuh rohaniah akan mengambil alih tugas tubuh alamiah. Melainkan, ketika mengacu kepada satu tubuh yang sama ia menyatakan bahwa, "Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah," Kata "yang" mengacu pada tubuh yang sama dalam kedua klausa kalimat tersebut, bukan dua tubuh yang berbeda. Tubuh yang sama ini menjadi tubuh yang dibangkitkan yaitu tubuh rohaniah seperti yang diacu olehnya. Dengan kata lain, tubuh rohaniah adalah tubuh yang sama dengan tubuh alamiah sebelum kematian, tetapi telah diubah menjadi yang bersifat spiritual. "Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati. Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: "Maut telah ditelan dalam kemenangan." (1 Korintus 15:53-54). Tubuh kita yang fana dan dapat hancur ini mengenakan aspek yang tidak dapat binasa dan kekekalan dari tubuh rohaniah yang merupakan tubuh fisik orang percaya yang telah diubahkan dan secara fisik dibangkitkan. Yesus merupakan yang sulung dari kebangkitan ini (1 Korintus 15:20). Karenanya, kita dapat melihat bahwa tubuh kebangkitan kita di masa yang akan datang adalah tubuh rohaniah.Tetapi, tubuh rohaniah itu secara faktual adalah tubuh alamiah/fisik, yang sama dengan tubuh kita sekarang, hanya telah dimuliakan. Sebab, jika sebaliknya yang terjadi, maka tidak ada kebangkitan itu.   2) Yesus dihukum mati secara fisik tetapi dibangkitkan secara spiritual menurut 1 Petrus 3:18. 1 Petrus 3:18 seringkali dipakai sebagai penangkal Yohanes 2:19-21. Bukannya berniat mengharmoniskan Alkitab, beberapa orang justru memakai ayat yang satu untuk "menyerang dan membuktikan kesalahan" ayat lain atau membenarkan tafsiran pribadi mereka. Demikianlah halnya dengan kasus pemakaian 1 Petrus 3:18-19: "Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh," (1 Petrus 3:18). Point yang ingin mereka buktikan dari ayat ini adalah bahwa Yesus tidak bangkit secara fisik, tetapi "secara roh/ menurut Roh" ( "in the spirit"). Bahkan ada yang menyatakan bahwa Yesus berhenti bereksistensi dan kemudian dihidupkan lagi dalam wujud roh. Tetapi, karena Yesus adalah Firman yang menjadi daging (Yohanes 1:1,14), Roh-Nya adalah kekal dan tidak perlu dihidupkan lagi. Lalu, mereka beranggapan bahwa Yesus tidak berbicara secara literal dalam Yohanes 2:19-21, sebab jika tidak maka ayat ini akan berkontradiksi dengan doktrin mereka bahwa Yesus tidak bangkit secara fisik.   Jelas, mereka keliru. Inilah alasannya mengapa mereka keliru:   Mari kita perhatikan konteks dari 1 Petrus 3:18. Inilah 1 Petrus 3:17-20. "Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat. Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh,Dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara, Yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu.” Kita harus mengakui bahwa ayat-ayat di atas memang memiliki interpretasi yang berlainan di antara para ahli/ sarjana. Dikatakan bahwa Yesus berbentuk roh ketika Ia pergi dan membuat proklamasi. Tetapi apakah maksud ayat ini? Apakah Yesus, di masa antara kematian dan kebangkitan-Nya, pergi dan memberitakan Injil kepada roh-roh dalam penjara, atau apakah sesudah kebangkitan-Nya? Lagipula, kata dalam bahasa Yunani yang dipakai untuk kata "memberitakan Injil" sesungguhnya adalah "karuso" yang artinya memproklamasikan bukan "evangelizo" yang artinya memberitakan Injil, jadi bukanlah Injil yang diberitakan kepada roh-roh dalam penjara itu.   Tambahan lagi, siapakah yang dimaksud dengan roh-roh itu, roh malaikat atau manusia? Dalam dunia roh, malaikat-malaikatlah yang dikatakan berada dalam penjara (Wahyu 20:7; 2 Petrus 2:4), bukan manusia. Apakah yang diproklamasikan itu? Paling mungkin adalah proklamasi mengenai kemenangan Kristus di atas kayu salib, menurut Alkitab, yang diberitakan kepada roh-roh mereka yang tidak taat kepada Allah pada zaman Nuh dan yang berada dalam penjara. (Lihat juga, 2 Petrus 2:4-5). Dalam pendapat bahwa masa antara kematian-Nya dan kebangkitan-Nya, Yesus pergi dan membuat proklamasi kemenangan-Nya atas kayu salib kepada malaikat-malaikat yang telah terjatuh dan yang telah dipenjarakan. Tetapi berhubung tidak ada jawaban yang pasti mengenai masalah ini, kita terbuka jika diajak berdiskusi lebih jauh atas masalah ini. Ayat 18 tidaklah mensyaratkan bahwa Yesus tidak boleh bangkit secara fisik.Faktanya, secara logis, jika kita memegang pendapat bahwa Yesus itu bangkit secara roh saja, maka kita akan menghadapi kontradiksi dengan ayat-ayat lain dalam Alkitab, seperti Yohanes 2:19-21 dan Lukas 24:39 seperti yang dikutip di atas. Karena Yohanes 2:19 jelas-jelas mengajarkan bahwa Bait Allah adalah kiasan tubuh Kristus yang dibangkitkan, maka ayat 1 Petrus 3:18, yang mengundang interpretasi yang berbeda di antara para sarjana (belum terlalu jelas), tidak dapat ditinjau dari cara yang menyebabkan ia berkontradiksi dengan ayat lain yang lebih jelas seperti ayat Yohanes 2:19-21 dan Lukas 24:39. Lebih jauh lagi, Alkitab dari versi yang berbeda menterjemahkan ayat 18 tersebut dengan cara yang berbeda. Beberapa versi mengatakan Yesus "dihidupkan oleh Roh" (Ing: Jesus was "made alive by the Spirit") yakni dalam versi KJV, NKJV, NIV, MLB; sementara yang lain menterjemahkannya sebagai "... dihidupkan dalam roh" ("...made alive in the spirit") yakni dalam versi NASB, NEB, RSV, JB, dan the 1901 ASV.   Jelas adalah mungkin bahwa Yesus dihidupkan oleh Roh Kudus yang mana hal ini konsisten dengan aspek Trinitas dari kebangkitan Yesus, di mana Allah membangkitkan Yesus (1 Tesalonika 1:10), Bapa membangkitkan Yesus (Galatia 1:1), dan Yesus membangkitkan diri-Nya sendiri (Yohanes 2:19-21), demikian juga Roh Kudus turut terlibat dalam kebangkitan Yesus (Roma 8:11). Juga adalah akurat untuk mengatakan bahwa Yesus telah dibangkitkan dalam roh dalam tubuh rohaniah-Nya, yang merupakan tubuh alamiah-Nya yang telah dimuliakan, dihidupkan, dan menjadi nyata sebagai yang sulung dari semua ciptaan (1 Korintus 15:20). Akhirnya, tubuh kita pada kenyataanya juga telah ditebus, bukan hanya roh kita.   "Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita." (Roma 9:23).   Tubuh yang dibicarakan di sini adalah tubuh fisik, bukan suatu tubuh tanpa-daging "rohaniah".   Sebagai ringkasan atas pembahasan mengenai ayat ini, 1 Petrus 3:18 tidaklah mengatakan bahwa Yesus telah dibangkitkan sebagai mahluk rohaniah belaka. Ayat ini mengatakan bahwa Ia "dibangkitkan dalam roh". Maksudnya apa? Sederhana saja, ini berarti bahwa Yesus dibangkitkan dalam tubuh yang tidak akan binasa. Ini adalah yang dikatakan dalam 1 Korintus 15:35-45 yang mengatakan bahwa tubuh kita "ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan.   Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah...". Yesus adalah "Adam yang akhir" yang adalah roh yang menghidupkan. Paulus sedang menggambarkan tentang tubuh kebangkitan. Dalam bagian Alkitab ini Paulus membicarakan mengenai kebangkitan semua orang. Semua orang Kristen akan dibangkitkan dalam tubuh fisiknya. Sama seperti Yesus. 3) Alkitab mengatakan bahwa "daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (1 Korintus 15:50), karenanya, Yesus tidak mungkin telah dibangkitkan dari kematian dalam tubuh yang sama dengan tubuh kematian-Nya. Masalah dengan keberatan ini adalah bahwa ia gagal memahamai fakta bahwa setelah kebangkitan, Yesus berkata, "Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada "daging dan tulangnya", seperti yang kamu lihat ada pada-Ku." (Lukas 24:39), bukan "daging dan darah". Ini bukanlah sekedar permainan kata-kata. Setiap kata dalam Alkitab diinspirasikan dan frase ini dipakai oleh Yesus tentu dengan maksud tertentu.   Istilah "daging dan darah" adalah frase yang dipakai dalam Alkitab dalam beragam konteks yang berbeda, tetapi selalu menunjukkan urutan alamiah. "Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. (Matius 16:17). Catatan: Kata "manusia" di ayat ini diterjemahkan dari bahasa Yunani "Sarx kai Haima " yang berarti "daging dan darah".   "karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara." (Efesus 6:12). "Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; " (Ibrani 2:14). Yesus telah menumpahkan darah-Nya di atas kayu salib. Secara harafiah darah itu berhenti mengalir ketika habis tertumpah dari tubuh-Nya. Kita lihat bahwa ketika Yesus bangkit dari kematian, Ia masih memiliki lubang-lubang pada tangan dan kaki-Nya (Lukas 24:39). Karena Ia masih memiliki ciri (karakteristik) dari siksaan berat atas tubuh-Nya, maka logislah untuk mengatakan bahwa, darah-Nya, yang secara literal telah tercurahkan, adalah tercurah sebagai sesuatu yang "mengadakan pendamaian". "Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu, karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa." (Imamat 17:11).   Itulah mengapa setelah kebangkitannya, untuk membuktikan bahwa Ia telah bangkit dalam tubuh yang sama dengan yang dibawa-Nya mati, Yesus meminta orang-orang untuk menyentuh tangan dan kaki-Nya karena tangan dan kaki-Nyalah yang mempunyai bekas lubang paku. Bukti apa lagi yang anda butuhkan selain dari melihat dan memegang tangan dan kaki yang sama yang memiliki lubang dari paku-paku di atas kayu salib! Lebih jauh lagi, dalam pernyataan yang sama, Yesus mengatakan bahwa Ia memiliki daging dan tulang, bukan daging dan darah. Ia telah bangkit! Persembahan korban adalah tubuh Kristus, karenanya, tubuh itu tidak mungkin bangkit lagi tanpa membuat pengorbanan itu menjadi tidak sah karena "diambil kembali". Kebangkitan Yesus adalah bukti bahwa pengorbanan-Nya telah diterima oleh Bapa yang telah menjanjikan bahwa, "sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. (Mazmur 16:10). Karena Yesus mempersembahkan sebuah korban yang sempurna untuk dosa, Ia diberikan garansi berupa kebangkitan fisik. Perhatikanlah, kematian fisik adalah hasil dari dosa. Tetapi, Yesus telah sukses membereskan masalah dosa, dan dalam proses itu, mengalahkan kematian yang diakibatkan oleh dosa (Roma 5:12; 1 Korintus 15:56). Buktinya adalah fakta bahwa Ia telah bangkit dari kematian dalam tubuh yang sama dengan yang dibawa-Nya mati.   Lebih jauh, Yesus telah sungguh-sungguh menanggung dosa-dosa kita dalam tubuh-Nya di atas kayu salib (1 Petrus 2:24) dan menggantikan posisi kita (2 Korintus 5:21). Tubuh-Nya telah dipakai sebagai sarana untuk mencurahkan darah pembersih dosa.   "Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu, karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa." (Imamat 17:11)   "Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan." (Ibrani 9:22 ).   Jadi, darah Kristus adalah yang menghapus dosa kita dan kebangkitan fisik dari Kristus adalah bukti bahwa pengorbanan itu telah diterima oleh Bapa. 4) Yesus memanifestasikan bentuk-bentuk fisik yang berbeda-beda guna meyakinkan murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit. Keberatan ini keliru dalam beberapa hal.   Pertama, ini akan berarti bahwa Yesus telah menipu murid-murid-Nya supaya mereka percaya bahwa tubuh-Nya telah dibangkitkan padahal tidak. Kedua, pendapat ini jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Yesus sendiri bahwa tubuh-Nya akan dibangkitkan. "Jawab Yesus kepada mereka: "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali." Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: "Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?" Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri." (Yohanes 2:19-21). Yesus mengatakan bahwa tubuh-Nya akan dibangkitkan.   Ketiga, 1 Timotius 2:5 mengatakan: "Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus. Yesus dikatakan sebagai seorang manusia. Jika Ia tidak bangkit secara fisik, bagaimanakah ia dapat menjadi manusia tanpa tubuh yang terdiri dari daging dan tulang? Bapalah yang membangkitkan Yesus; Yesus tidak melakukannya Sendiri, karenanya Yohanes 2:19-21 tidak bisa diartikan secara harafiah karena Yesus tidak membangkitkan diri-Nya sendiri. Keberatan ini jelas gagal dalam memperhitungkan nature Trinitas dari Allah dan kebangkitan. Kita lihat bahwa tiap pribadi dari Trinitas terlibat dalam kebangkitan Kristus. Bapa - "Dari Paulus, seorang rasul, bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, (Galatia 1:1). Anak - "Jawab Yesus kepada mereka: "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali." Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: "Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?" Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri." (Yohanes 2:19-21) Roh Kudus - "Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu. (Roma 8:11).   Demikianlah untuk klarifikasi lebih lanjut, kita harus memahami bahwa aspek-aspek lain dari Trinitas dapat ditemukan dalam keseluruhan Alkitab dalam berbagai pokok bahasan yang berbeda-beda:   Masing-masing disebut Allah: Bapa (Filipi 1:2), Anak (Yohanes 1:1,14; Kolose 2:9) dan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 5:3-4). Masing-masing adalah Pencipta: Bapa (Yesaya 64:8; 44:24), Anak (Yohanes 1:3; Kolose 1:15-17), dan Roh Kudus (Ayub 33:4; 26:13). Masing-masing diam dalam orang percaya (Bapa (2 Korintus 6:16), Anak (Kolose 1:27), dan Roh Kudus (Yohanes 14:17).   Ketika melihat keseluruhan Alkitab kita dapat melihat bahwa tidak ada kontradiksi mengenai kebangkitan Yesus. Sebaliknya, kita melihat adanya penegasan dan peneguhan atas kebenaran bahwa Yesus memang, dalam faktanya, telah membangkitkan tubuh-Nya sebagaimana yang dinyatakan-Nya sendiri.

Judul jesus

Inilah Yesus Raja orang Yahudi (Matius 27:37)
Raja Orang Yahudi (Markus 15:26)
Inilah Raja Orang Yahudi (Lukas 23:38)
Yesus, orang Nazaret, raja orang Yahudi (Yoh 19:19)
Mengapa empat penulis Injil itu memberikan laporan yang berbeda-beda mengenai apa yang tertulis pada salib Yesus…?

 

Ada beberapa hal yang dapat diamati dari laporan-laporan Injil terkait dengan topik ini:

 

Pada waktu peristiwa disalibkannya Yesus Kristus, dari 11 rasul yang tersisa, hanya Yohanes saja yang berdiri di dekat salib Kristus (Yohanes 19:26).

 

Matius (Penulis Injil Matius), Petrus (narasumber bagi Markus bin Petrus yang menulis Injil Markus), dan 9 murid lainnya adalah saksi mata (Lukas 1:2). Artinya, mereka juga melihat apa-apa saja yang dialami oleh Isa. Meski demikian, menilik Injil Yohanes 19:26 di atas, maka dapat diketahui bahwa dalam kasus penyaliban Yesus, keberadaan mereka terhadap salib Yesus tidak sedekat Yohanes yang berdiri di samping salib Yesus.

 

Selain Yohanes, yang berada di dekat salib Yesus adalah:

Maria ibu Yesus, Maria istri Klopas yang merupakan saudara Maria ibu Yesus, dan Maria Magdalena (Yohanes 19:25)
Para pemimpin agama Yahudi dan para pengikut mereka (Yohanes 19:20-21).
Pontius Pilatus dan pasukannya (Yohanes 19:22-23).
Tulisan pada salib Yesus ditulis dalam 3 bahasa, yaitu: Ibrani, Latin, dan Yunani (Yohanes 19:20).

Dengan mempertimbangkan kemungkinan lebar batang kayu yang dijadikan salib, maka tulisan dalam masing-masing bahasa tersebut kemungkinan besar dituliskan ke bawah dengan urutan sesuai yang tertulis dalam Yoh 19:20 tersebut itu, yaitu:

Ibrani, Latin, Yunani

—–>

Ibrani

Latin

Yunani

 

Posisi orang yang disalib berada dengan jarak tertentu dari permukaan tanah, lebih tinggi daripada orang yang berdiri berpijak langsung pada tanah. Dengan demikian, Yohanes perlu mendongak untuk melihat tulisan yang berada di atas kepala Yesus Kristus.

 

Mereka yang berada lebih dekat dengan salib Yesus Kristus tentulah dapat membaca tulisan tersebut secara lebih jelas bila dibandingkan dengan mereka yang berada jauh dari salib. Dengan posisinya itu, maka tulisan di atas kepala Yesus yang dapat terbaca dengan mudah dari posisi Yohanes adalah tulisan yang paling bawah, yaitu yang tertulis dalam bahasa Yunani.

 

Matius yang berdirinya jauh dari salib — lebih jauh dari Yohanes — dapat dapat melihat bahwa ada tulisan di atas kepala Yesus Kristus (Matius 27:37)

 

Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut, dapat diperkirakan bahwa Yohanes yang paling dekat dengan salib Isa dapat membaca secara lebih jelas. Ini berarti Injil Yohanes 19:19 menceritakan apa yang dilihat oleh Yohanes dari dekat dan Yohanes menceritakan apa yang tertulis itu secara literal.

 

Jadi, yang tertulis pada salib itu adalah:

 

Ιησους ο Ναζωραιος ο Βασιλευς των Ιουδαιων

(Iēsūs ho Nazōraios ho Basilius tōn Iūdaiōn atau disingkat INBI)

 

Dengan mengetahui INBI, maka kita dapat mengetahui apa yang tertulis pada tulisan-tulisan di atasnya sebagai berikut:

 

Bahasa : Ibrani

Tulisan : היהודים ומלך הנצרי ישוע

Cara baca : yeshūa’ hanaṣrī ūmeleḵ hayĕhūḏīm

Singkatan : יהוה YHWH

 

Bahasa :Latin

Tulisan : IESVS NAZARENVS REX IVDÆORVM

Cara baca : Jesus Nazarenus, Rex Iudaeorum

Singkatan : INRI

 

Bahasa : Yunani

Tulisan : Ιησους ο Ναζωραιος ο Βασιλευς των Ιουδαιων

Cara baca : Iēsūs ho Nazōraios ho Basilius tōn Iūdaiōn

Singkatan : INBI

 

Bila kita bandingkan dengan lukisan-lukisan yang bertemakan penyaliban Yesus yang berasal dari abad-abad awal tarikh Masehi, maka kita akan melihat kesesuaian dalam hal adanya tulisan-tulisan INBI atau INRI pada lukisan-lukisan tersebut. Ini berarti, bukti-bukti sejarah mendukung pandangan bahwa Yohanes menuliskan apa yang tertulis pada salib itu secara literal.

 

Kalau begitu, bagaimana dengan kalimat “Inilah Yesus Raja orang Yahudi” (Mat 27:37), “Raja Orang Yahudi” (Mark 15:26), dan “Inilah Raja Orang Yahudi” (Lukas 23:38)…

 

Apakah itu berarti laporan ketiga Injil yang lain itu salah…?

 

Tidak demikian.

Laporan ketiga penulis Injil yang lain juga benar.

 

Perbedaan terjadi akibat metode penceritaan yang berbeda saja.

 

Yohanes menggunakan metode penceritaan literal atau dikutip mentah-mentah sesuai apa yang tertulis pada salib itu dan apa yang didengarnya. Sedangkan ketiga penulis Injil yang lain mengetahui detil apa yang tertulis pada salib itu dari Yohanes, karena posisi mereka lebih jauh dari salib daripada Yohanes.

 

Selanjutnya mereka menceritakan kembali apa yang mereka ketahui itu dengan menggunakan metode parafrase, yaitu metode penceritaan kembali dengan menggunakan bahasa sendiri.

 

Metode ini lebih menekankan kepada isi yang disampaikan. Isinya sama, tapi pilihan kata yang digunakan berbeda.

 

Untuk mudah dipahami, bayangkan ada 4 koran yang berbeda yang menceritakan satu kejadian yang sama.

Keempat koran tersebut pasti menggunakan pilihan kata yang berbeda, walau sama-sama menceritakan satu peristiwa yang sama.

 

Dari keempat “koran” itu, “koran” Yohanes mengutip secara literal apa yang tertulis pada salib Isa; sedangkan ketiga “koran” yang lain (Matius, Markus, dan Lukas) memilih menceritakan tulisan pada salib itu dengan menggunakan kalimat tidak langsung dan dengan menggunakan bahasa sendiri yang lebih mudah dicerna oleh para target audience mereka masing-masing.

 



References

http://studycycle.net
http://www.thenazareneway.com/inri_the_inscription_explained.htm
Latin for "Jesus of Nazareth, the King of the Jews" is "Iesvs Nazarenvs Rex Iudaeorvm" and the acronym for this title is INRI. Latin uses the letter "I" instead of the English "J", and "V" instead of "U" (i.e., Jesus Nazarenus Rex Judaeorum). The English translation is then "Jesus of Nazareth, the King of the Jews."
The Jesuit Order, otherwise known as the Society of Jesus (S.J.), is the military enforcement arm of the Catholic Church. On the Jesuit flag is written the words, IUSTUM, NECAR, REGES, IMPIOS or, "It is just to exterminate or annihilate impious or heretical kings, governments, or rulers."
 


Dalam Perjanjian Lama :

TUHAN (YHWH) menampakan diri dalam wujud THEOFANI seperti Malaikat TUHAN (Malakh YHWH) bukan hanya sekedar malaikat (angel), manusia, Tiang Awan & Tiang Api (Shekinah/Kemuliaan), dalam bentuk Terang Kemuliaan di Bait Suci Tetapi tidak ada seoranpun yang dapat melihat wajah kemuliaan-Nya, kecuali Musa hanya bisa melihat punggung-Nya.

 


Dalam Perjanjian Baru :

TUHAN (YHWH) menyatakan diri dalam bentuk INKARNASI yaitu menjadi manusia seutuhnya, Terang TUHAN (Shekinah/Kabod) itu telah menjadi manusia dan TUHAN yang tidak terjangkau dan tak terlihat itu dikenal dalam sejarah manusia yaitu dalam diri YESUS Kristus, oleh sebab itu DIA disebut Imanuel berarti ALLAH yang dekat dengan kita dan selalu hadir bersama-sama dengan kita...

 





"Yahweh"

Telah "turun" dan "berdiam" di antara kita di dalam diri YESUS Kristus..

 

Ini yang disebut banyak orang Israel :

 


TUHAN Allah kita (YHWH Elohim) telah melawat umat-Nya sebagai Raja Mesias yang dijanjikan, diberkatilah Dia (YESUS) yang datang dalam nama Yahweh...

 



"YESUS"

Adalah YHWH (Baca : Yahweh, TUHAN) kata :

 


"INRI" (tulisan di atas salib) adalah :


Iesus Nazarenus Rex Iudaeorum (Latin) dan

Iesos Nazoraious Basileus Ioudaios (Yunani) artinya YESUS dari Nazaret Raja org Yahudi..

 


Dalam Bahasa Ibrani adalah :

Yeshua Hanatszri Wamelekh Hayehudim kalau kita baca pasti muncul Huruf YHWH..

Yesus berkati